Satir Hidup Indonesia

6

Eh Bang Eman, kenapa angkot 06 itu disebut angkot 06?” Tanya Kodir.

“Yah karena kesepakatan para sopir angkot-lah, kalau jadi 05, atau 04 kan jadi kacau, karena beda jalur operasionalnya.” Jawab Eman sekenanya.

“Berarti pointnya karena beda jalur operasionalnya makanya diberi identitas agar menjadi pembeda dengan (nomor) angkot-angkot lainnya ya bang?” Selidik Kodir.

“Ya, iya-lah Dir, 06 itu angkot jurusan Gandaria-Kampung Melayu, kalau 05 itu Cililitan-Setu PP, kalau 04 Kampung Melayu-Pondok Gede, nah untuk membedakan antara satu angkot (jurusan) dengan angkot jurusan lainnya dikasih-lah nama. ada 06, 05, 04, 03 dst… tergantung rute operasinya” Papar Eman bak seorang guru terhadap murid.

“O iya iya, berarti kalau ada angkot 06 yang tidak beroperasi layaknya angkot 06 pada umumnya maka ia tak layak disebut angkot 06 dong?”

“Ya, tergantung, mungkin lagi disewa, mungkin, atau mungkin ada urusan pribadi si sopir angkot, atau sejenisnya.”Hardik Eman.

“Iya, tapi maksud saya di saat angkot 06 tidak beroperasi seperti seharusnya, sebagaimana tugas dan fungsi daripada angkot 06 itu sendiri maka di saat itu pula bisa dikatakan ia bukan angkot 06 dong? atau dengan kata lain ia sedang tidak menjadi angkot 06 dong?”

Yaa, ya, bisa jadi, bisa, jadi…. soalnya dia tidak menjalankan fungsi-operasional-nya sesuai ketentuan identitasnya…” Jawab Eman seadanya.

Nah, berarti Indonesia tidak ada dong Bang?” Kodir kembali bertanya.

“Maksudnya?” Tanya Eman dengan maksud kurang-paham.

“Maksudnya Indonesia tidak ada, ya kan sesuai kesepakatan, sebagaimana angkot 06 disebut ada kalau ia beroperasi sesuai fungsinya yakni melewati rute dari Kampung Melayu – Cililitan  – Kramat Jati – Pasar Rebo – Gandaria. sama halnya dengan Indonesia, Indonesia disebut ada kalau Pancasila dijalankan secara murni dari Ketuhanan Yang Maha Esa sampai Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. ya kan? secara nyata hari ini Indonesia hampir seratus persen tidak menjalankan fungsi yang menjadi jalur operasinya yakni Pancasila, ya bisa dikatakan Indonesia tidak ada dong?” Oceh Kodir panjang-lebar.

Terperangah Eman mendengar celoteh polos Kodir, “Waah, Bagong, cerdas juga kamu.” lanjut Eman, “benar juga sih, iya sihhehehe… bener, benerr…

Percakapan siang itu pun disudahi dengan tawa bersama keduanya, sambil memegang gagang cangkir, bersiap menghabiskan sisa kopi.

Udara siang itu cukup segar, di bawah pohon beringin Eman dan Kodir bersantai sejenak setelah sejak pagi memahat kayu untuk membuat mebel pesanan pembeli.

Eman dan Kodir Kakak-adik yang menyambung hidup dari usaha mebel. dari mebel-lah kehidupan mereka berlangsung, dan dari mebel-lah cerita baru dimulai. ada maupun tanpa Indonesia.

Kebagusan, 09 Oktober 2014, Pukul 11:51 AM. Makan siang telah tiba…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s