Jembatan Hypperrealitas

Dari mana kita berasal?

Dari cairan tubuh para broker dan penguasa pasar produksi yang berzinah di atas ranjang ketamakan dunia lewat realitas yang dipalsukan.

Untuk apa kita hidup?

Untuk menunjukkan eksistensi semu lewat balutan semiologi Levi Strauss dan polesan krim pemutih kemaluan agar tampil percaya diri di hadapan ribuan pasang mata yang terpana pada fana penuh nanah yang disebabkan oleh gatal nanas yang panas untuk monument pemujaan sensualitas demi popularitas.

Di balik selimut terdapat lengkungan daging yang terbungkus tanah menebar pesona lewat parfum kelas dewa yang kemudian kita kenal dengan nama “tuhan gaya simulacra”.

Akan ke mana kita setelah hidup?

Akan menjadi merah, putih, abu-abu, kuning, hijau, merah muda, kuning, kuning muda, hitam dan sekompi elemen warna tersier yang terpampang di layar televisi yang mengimani repetisi tanpa substansi bermakna sehingga yang ada hanyalah realitas tanpa entitas, yang berkabut, bersemu, dan berhalang-halang karena realitas yang didamba hanyalah ilutifitas yang dianggap nyata.

O, apakah kebenaran adalah kesemuan?
Mungkinkah kesalahan adalah kebenaran yang belum tersingkap?
Dan lebih berharga mana antara keadaan yang ada dengan ketiadaan yang ada?

Selamat datang manusia akhir zaman.
akhir zaman adalah sales marketing terbaik yang mampu menghipnotis manusia untuk berkata benar terhadap kebohongan yang terstruktur.
Ereksi daripada nihilisme terselip di balik realitas wajah dunia post-modern yang serba canggih ini.
Inilah dunia kita, dunia hyperrealitas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s