Sajak Gundah Rembulan

moon-face

Menapak tilas.
Mencari jejak di tengah samudera yang kering,
hingga gelap meniba, batang hidungnya tak kunjung ada.

Barangkali gelap menutup wujud,
atau wujud terlalu gelap tuk diindra,
atau indra terlalu lemah tuk menjamah,
atau jamah hanyalah ilusi yang dicipta hati,
hmmm, kegelapan ini pasti tersingkap.

Bulan kembali ke tugasnya seperti kemarin-kemarin,
ia, melamun di ujung awan yang galau,
dan lembayung jadi satu mendayung untuk maju,
ternyata tak kunjung sampai di bulan,
sudah berlaripun hasilnya tetap sama.

Kenapa?

Kini rembulan menyampaikan salam perpisahan di atas cakrawala yang mengigau,
Sedang mentari sebentar lagi menangis di ufuk timur,
ia merontah menyenangi bumi,
dan bumi kebasahan karena lelah tuk menjaga.

O, ternyata kesetiaan adalah penjagaan yang melepaskan.
Dan kau?
Kau hanyalah pelepasan yang tak kunjung datang,
Sesuatu menggelap,
Sesuatu menderang,
tak tahu sebenarnya misteri ini kapan akan terungkap,
bahasa mulut lelah mengoceh,
bahkan gestur pemberontakan sang hewan hanyalah impuls mencari mangsa.
Kata-kata takkan berakhir.
Kata-kata takkan habis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s