Sajak Diam dan Pemberontakan

3

derai hujan, derai air mata
kita diam, dan mereka bicara
kita menangis, dan mereka bicara,
kita berteduh, dan di mana-mana adalah beriak

perjuangan dan seleksifitas alam adalah suatu tanda pengasahan jiwa dan pembentukan karakter,
selama ini penyesalan mengiringi langkah kaki,
selama ini kekecewaan menghantui setiap kita yang berkecil hati,
tetapi, semakin keras tekanan ini, semakin besar pula muncratan pemberontakan terhadap segala kejanggalan hidup.

kita keluar, kita melihat, dan ternyata kekeluaran ini begitu indah.
kita berdiri, kita berbicara aktualisasi dan realisasi yang sebenarnya hanyalah fatamorgana di kala senja menerpa jalan.
kita diam, dan kita akan kembali bicara di saat alam memaksa eksistensi sebagai kesakralan hidup.

kita konsumsi, kita konsumsi, dan perbudakan menjadi reinkarnasi yang begitu sempurna di dunia purna-milenium ini.
kita akan kembali diam, dan mereka menari,
kita tetap diam dan mereka terpingkal,
kita diam dan mereka menjadi kutu.

diamku bukan diam,
diamku bukan sembunyi,
diamku bukan hipokrasi,
tapi diamku adalah berontak,
diamku pemberontakan.

Jakarta, 02 juli 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s