Kelaparan dan Puisi

kelaparan-bengali-1770-dan-1943

Kelaparan itu sangat menakutkan,
Ia menawarkan kediktatoran,
Bapak, ibu, dan anak kelaparan,
Neraka bukan lagi sebuah penantian,
Ia telah menjelma dalam kenyataan hidup manusia yang sia-sia.

Matahari barangkali ada dua, atau ada tiga,
Panasnya jiwa memerah di kelopak bunga yang disetubuhi serangga,
Kita bukan kata,
Kita melampaui tinta pena,
Tapi, sayang, puisi tak memberi kenyang.
Puisi tak kunjung memberi perbaikan….

Cimanggis, 18 Oktober 2014

Sabda Cinta 4 Penyair

4Penyaiir

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada,” ujar Sapardi Djoko Damono.

“Cinta yang berbobot itu tidak sederhana. Seperti ‘Romeo-Juliet’ dan ‘Laila-Majenun’!” sanggah Sutardji Calzoum Bachri.

“Cinta itu sederhana, di dalamnya ada bahagia. Kita saja yang pelik, seolah semua harus jadi milik,” tawar Candra Malik mencoba menengahi.

“Wis yo cuuk, asu kabeh …. markincuuuk!” pekik Sujiwo Tejo sambil menggenggam toa.

Sukarnois Bukan Sekadar Klaim, Bung Joko!

SEKALI LAGI : BUKAN “JANGAN BANYAK BICARA, BEKERJALAH!”, TETAPI “BANYAK BICARA, BANYAK BEKERJA!”

Itu judul salah satu artikel Bung Karno dalam “Fikiran Rakyat, 1933″ yang terangkum dalam “Di Bawah Bendera Revolusi”.

Berikut, saya kutip dua alinea dari artikel tersebut :

Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa semboyan “jangan banyak bicara, bekerjalah!” harus diartikan di dalam arti yang luas. Tidak sekejap mata masuk di dalam otak kaum itu, bahwa “bekerja” itu tidak hanya berarti mendirikan barang-barang yang boleh dilihat dan diraba sahaja, yakni barang-barang yang tastbaar dan materiil. Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa perkataan “mendirikan” itu juga boleh dipakai untuk barang yang abstrak, yakni juga bisa ber­arti mendirikan semangat, mendirikan keinsyafan, mendirikan harapan, mendirikan ideologi atau gedung kejiwaan atau artileri kejiwaan yang menurut sejarah-dunia akhirnya adalah artileri yang satu-satunya yang bisa menggugurkan sesuatu stelsel.

Tidak sekejap mata kaum itu mengerti bahwa terutama sekali di Indonesia dengan masyarakat yang merk-kecil dan dengan imperialisme yang industriil itu, ada baiknya juga kita “banyak bicara”, di dalam arti membanting kita punya tulang, mengucurkan kita punya keringat, memeras kita punya tenaga untuk membuka-bukakan matanya Rakyat-jelata tentang stelsel-stelsel yang menyengkeram padanya, menggugah-gugahkan keinsyafan-politik daripada Rakyat-jelata itu, menyusun-nyusunkan segala tenaganja di dalam orga­nisasi-organisasi yang sempurna tekhniknya dan sempurna disiplinnya:- pendek kata “banyak bicara” menghidup-hidupkan dan membesar­-besarkan massa-aksi daripada Rakyat-jelata itu adanya. Begitulah tempo hari saya menulis dalam “Suluh Indonesia Muda”. Dengan terang dan yakin saya tuliskan, bahwa titik-beratnya, pusarnya kita punya pergerakan haruslah terletak di dalam pergerakan politik. Dengan terang dan yakin saya tuliskan, bahwa kita harus mengutamakan massa-aksi politik yang nasional-radikal dan marhaenistis.

Kalau Jokowi mengatakan dirinya Sukarnois maka itu bullshit! Sebab Jokowi hanya mengutamakan kerja dan mengabaikan bicara. Dan itu bertolak belakang dengan prinsip Bung Karno yang mengatakan: Bukan “Jangan banyak bicara, bekerjalah!”, tetapi “Banyak bicara, banyak bekerja!”

Silakan baca “Di Bawah Bendera Revolusi”, kumpulan tulisan Bung Karno tentang kebangsaan, persatuan, dan kemerdekaan. Salah satunya membicarakan tentang pentingnya bicara dan bekerja. “Banyak bicara, banyak bekerja!” itu kata Bung Karno, bukan hanya bekerja yang merupakan doktrin perbudakan, kata Bung Karno.

Belum terlambat untuk Jokowi dalam menjadi Sukarnois sejati dengan menyempatkan waktu membaca “Di Bawah Bendera Revolusi”. Jangan hanya bisa mengklaim diri sebagai Sukarnois, tanpa memelajari pikiran-pikiran Bung Karno.

Wallahu a’lam bishawab….

Tafsir Atas Sabda Gandhi

34-gandhi-sketch-drawing-artwork-picture-illustration

Ternyata… tak selamanya kebaikan harus dibalas kebaikan, cinta dibalas cinta, perasaan dibalas perasaan, pikiran dibalas pikiran, dsb, dst….

Apa yang diterima tak harus sesuai dengan apa yang diberi. Kau bebas membalas apa yang kau dapatkan dengan apa saja, — sesuai kehendakmu, “sesuka udelmu,” kata mbah di rumah.

Jika kau sering melakukan kebaikan tapi yang kau dapatkan adalah keburukan maka itu bukan soal. Tak perlu dimasalahkan. Itulah kehidupan. Bung Karno pernah mengatakan, “Kita tidak bisa membuat dunia menjadi tidak seperti dunia.”

Memang benar sabda Mahatma Gandhi, “Jika mata diganti mata, maka dunia bisa buta.” Konsistenlah dengan sabda tersebut, sehingga ketika ada orang yang berbuat jahat padamu, kau tak membalasnya dengan kejahatan pula.

Bentuk konsistensi itu berlanjut… hingga ada orang yang berbuat baik padamu, kau tak berbuat baik padanya sebagi balasan, tak perlu. Mata jangan dibalas mata, tangan jangan dibalas tangan, luka jangan dibalas luka, dan kebaikan jangan dibalas kebaikan. Ingat! Konsistenlah dengan kesepahamanmu dengan sabda Gandhi di atas.

Lagipula, jika ada orang yang berbuat baik padamu dan kau pun membalasnya dengan berbuat baik, maka kau sedang menghabiskan stok kebaikan di dunia ini. Itu tandanya kau rakus dan serakah. Biarlah kebaikan orang lain kepadamu dibalas oleh orang lain juga, bukan kamu. Ingat sabda Gandhi!

Itulah yang disebut manusia sebagai bentuk dalam menjaga stabilitas kehidupan. Menolong bukan karena ditolong, berbuat baik bukan karena diperlakukan baik, melakukan kejahatan bukan karena dijahati.

Hehe…


Budak Waktu

Setiap pagi adalah mimpi buruk,
Ia mengganggu nikmat tidur,
Matahari merangkak,
Dan para pembunuh waktu harus berangkat kerja,

Cepat, jangan telat!
Suara hati melengking dalam batin,
Berdesak dan berhimpit itu kewajibanmu,
wahai budak waktu….

Kami jamaah kantor,
Pergi pagi pulang sore,
Diburuh waktu mencari uang,
Membunuh waktu tanpa kenang,
Hari tua adalah ketakutan,
Tuanya hari membudakkan,

Hei, kereta kita sudah penuh,
Barangkali kalau ia manusia akan muntah,
Kelebihan penumpang itu biasa,
Kepatuhan adalah takdir manusia,
Menjadi relawan itu sia-sia,
Maukah kau menjadi relawan kereta?

Yang dicari manusia adalah butuh,
Yang membunuh manusia adalah waktu,
Waktu dan manusia saling membunuh,
Tua dan kaku menjadi sesuatu.

Oh, budak waktu,
Rasanya aku jenuh,
Manusia bukan batu,
Hakikat bukan itu…
Hidup tak semati itu….

Hidup dan Mati

Baru saya sadari…
Ternyata di dalam hitam-putih tidak hanya ada hitam dan putih,
Bahwa di dalam hitam-putih terdapat banyak gradasi,
Ada hitam-kehitaman, hitam-keputihan, abu-abu, abu-abu tua, abu-abu sedang, abu-abu muda, abu-abu kehitaman, abu-abu keputihan, kehitam-putih-putihan, keputih-hitam-hitaman, dan seterusnya, dan seterusnya…

Begitupun dengan hidup-mati…
Ternyata di dalam hidup dan mati terdapat banyak hidup dan mati,
Ada hidup yang setengah mati, ada yang hidup-kemati-matian, ada yang hidup tapi hidup tak hidup-hidup, hidup tapi mati-mati, mati-tak-mati-mati, mati tapi kehidup-hidupan, ada juga yang mati tapi lebih hidup, dan seterusnya, dan seterusnya…

Semati apa hidupmu?

Berpuisilah Bayi

Jika setiap hari masih banyak bayi yang lahir,
Itu tandanya kehidupan belum berakhir,
Dan jika kata pemberontakan mulai lahir dari mulut para penyair,
Itu pertanda revolusi harus mengalir….

Tangis bayi adalah pemecah gundah,
Suaranya adalah sajak kehidupan,
Di dalamnya tersimpan gejolak untuk berubah,
Apabila setiap tanya dan bahasa dicegah untuk keluar,
Maka, hasrat pemberontakan tinggal menunggu waktunya.

Perubahan itu hukum kehidupan,
Untuk hidup, setiap bayi butuh kekebalan,
Dan bagi para penyair, kekebalan diawali dengan kejujuran,
“Berpuislah!” kata penyair,
“Sebab, kejujuran ada dalam puisi,
Bukan di televisi,
Apalagi dari mulut bau para politisi.”

Berpuisilah!

Cimanggis, 18 Oktober 2014