Kinara

Oleh Adellia Putri

Di puisiku,

kau hidupkan setiap aksara kisah berisi takdir,

Kau rangkai sejuta angan menjadi kalimat tiada akhir,

Masih ada sejuta paragraf cantik yang harus kita tulis bersama, agar segala kenang bisa menjadi titik,

Tidak hanya koma.

Tak mengapa ruang dan waktu mengutuk kebersamaan kita saat ini,

Namun ini baru hanya akan menjadi awal,

Tak kusalahkan kau bersenda gurau dengan kecemasan,

Memilih tersenyum di tengah risau kesedihan,

Di antara puisi keindahan,

Ingat, jutaan kelopak mata belum rangkum kita susun,

Kuncup-kuncup makna butuh zat hijau berdaun untuk jatuh sebagai embun….

Advertisements

Demokrasi Membunuh Pancasila

Tanpa gotong-royong, Indonesia takkan ada. Tanpa kolektivitas koelegial, Indonesia hari ini hanya sebatas khayal. Dan tanpa musyawarah-mufakat, Indonesia akan melarat.

Ya, siapapun tiap-tiap kita manusia yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia akan menyepakati itu. Itulah karakteristik Indonesia: Gotong-royong, kolektivitas sosial, dan musyawarah untuk mufakat. Tanpa ketiga basic value (nilai dasar) tersebut, takkan mungkin organisasi kepemudaan bersifat kedaerahan, seperti Tri Koro Darmo yang kemudian menjadi Jong Java (1915), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Islamieten bond (1924), Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Betawi dll bersusah-payah menyeberangi lautan, berkumpul dari segala arah dengan jutaan peluh yang diteteskan sepanjang jalan dari desa/daerah masing-masing untuk menyatakan diri satu tanah air, satu bangsa, dan menjunjung satu bahasa persatuan demi satu mission sacre (misi suci) yakni mengangkat harkat dan martabat hidup pribumi asli yang kemudian dikenal sebagai bangsa Indonesia.

Jika kita sepakat dengan isi paragraf di atas maka secara murni-konsukwen dan dengan penuh conscious of man (kesadaran kemanusiaan) kita secara tegas menolak demokrasi dengan medium utamanya pemilu one man one vote diterapkan di negara kita, negara Indonesia.

Kenapa demokrasi one man one vote tidak boleh diterapkan dan dijalankan di Indonesia?

Pertama, demokrasi secara prosedural menetapkan pemimpin dan menyelesaikan masalah bersandar pada suara terbanyak bertentangan dengan musyawarah-mufakat yang secara jelas oleh para pendiri bangsa ini dijadikan sebagai salah satu dasar pandangan hidup (philosophische grondslag) yakni sila ke empat dalam pancasila yang berbunyi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat/kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Ingat, permusyawaratan perwakilan, bukan satu orang satu suara dan tanpa perwakilan.

Kedua, one man one vote atau satu orang satu suara adalah sikap individualistis (anak kandung kapitalisme) yang sangat bertentangan dengan semangat gotong-royong dan kekeluargaan yang menjadi jati-diri bangsa Indonesia itu sendiri.

Ketiga, demokrasi tidak bisa diterapkan di dalam sebuah negara yang rakyatnya majemuk secara kebudayaan. Demokrasi menyeragamkan (homogenisasi) semua orang, sedang karakteristik rakyat Indonesia adalah heterogen, dan keheterogenan atau keberagaman adalah order of nature (ketentuan alam), sudah hukumnya seperti itu, sama halnya dengan hukum mekanika kuantum, gravitasi, kausalitas, dll. Sudah hakiki, tak bisa diubah.

Itulah kita, bangsa Indonesia, bangsa yang berkarakter, yang tak boleh latah dalam “memakan” apa saja yang datang dari luar. Semoga kita semua bisa menyadari hal ini. Bahwa bangsa (kita) lahir bukan dari konsep suara terbanyak (mayoritas-minoritas), melainkan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Andai kita adalah bangsa yang lahir dari mindset (cara berpikir) demokrasi yang “mayoritas-minoritas” maka mungkin bahasa persatuan kita bukanlah bahasa Melayu melainkan bahasa Jawa. Dan hanya Jawalah suku yang diakui di negara ini karena hampir 60% dari bangsa Indonesia adalah suku Jawa. Dan tentu, dalam sila pertama pancasila mungkin bukanlah “Ketuhanan Yang Maha Esa” melainkan “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”

Wassalam…

Karunia

Jika aku du maka kau nia,

Aku dan kau satu menjadi dunia,

Aku hanya membutuhkan A untuk meleburmu dalam Ku,

Aku menjelma menjadi Ka untuk masuk ke dalam Mu,

Langit kita satu bumi kita satu,

Yang tergores padamu terluka padaku,

Yang terbakar padamu membara padaku,

Yang teraku padamu terkamu padaku.

Kekasih Malam

Kekasih, ingatkah kau ketika pertama kali kulihat bumi dalam kegelapan?

Di saat ombak berpadu mesra dengan batu karang di semenanjung pantai,

Di saat ular mencengkram mangsa dan gurita melepas tinta,

Itulah cinta…

Kekasih, jangan kau panggil aku uang, sebab duniaku adalah jalan,

Di kala terompet sangkakala merindu masa dan zaman mendamba langsa,

itulah kisah…

Kekasih, ingatkan aku untuk sujud terhadap maslahat sebab kiamat adalah dongeng keramat apabila tak mampu diinterpretasi dengan baik oleh manusia yang tak punya hikmat…

Cinta, gambarkan senja di ufuk timur agar aku bisa melihat di mana kemustahilan itu berada?

Di saat kita sudah bosan mempertanyakan eksistensi dari pada Eksistensi, dan sajak daripada Sajak, sehingga puisi dan keonaran adalah jalan menuju peradaban….

Mari Sayang kita tunduk, sembah, dan sujud terhadap berhala tua peninggalan bodhisatva, agar pulas tidur kita mampu mengeramkan paha iblis yang setia menopang dosa sejati kefanaan,

Dan jilid adalah sepenggal cerita di saat kata tak membendung awan,

Dan bait adalah pemberontakan hati terhadap sakit,

Dan tinta adalah manifestasi filsafat Kebenaran goresan jiwa,

Menggores jiwa….

Demokrasi Was-wasil

Darter, Snake-Bird, Bird, Waterbird, Perched, Wetland

Demokrasi sistem voting tidak ada kaitannya dengan kedaulatan rakyat!

Hei rakyat, buruh, pemuda hingga janda muda, sadarlah bahwa tak ada hubungan antara pemilu dengan melibatkan rakyat dalam kotak suara dengan kedaulatanmu sebagai manusia sosial. Bahwa suaramu (suara rakyat) diperlukan oleh calon bupati/walikota, gubernur, sampai presiden sekalipun adalah bukan untuk memperjuangkan nasibmu dalam pemerintahannya melainkan hanya untuk menjadikanmu sebagai objek pelenggang menuju kekuasaan. Dengan kata lain, rakyat jangan terlalu geer dan pede karena dilibatkan dalam moment pemilihan umum (pilkada, pilkadal, pilkabe dll), kalian dibutuhkan agar suara dan kepalamu dibeli, dan bukan untuk dijadikan sebagai instrumen perjuangan menuju kedaulatan sejati.

“Metode pemilihan pemimpin dengan suara terbanyak adalah cacat.” -Aristoteles

Ada oknum-oknum licik yang menentang proses pemilihan kepala daerah oleh dprd dengan alasan tidak demokratis, tidak melibatkan rakyat. Pertanyaannya kemudian, apa pentingnya suara rakyat bagi kalian calon kepala daerah?

Bukankah sejarah indonesia telah membuktikan semakin ke sini sistem voting dengan penentuan suara terbanyak hanya berujung pada konflik horizontal dan malah semakin memperuncing relasi antar warga-negara disusul kemudian antar-agama, suku, ras, dan golongan-golongan tertentu?

Sudahlah rakyat, buruh, dan pemuda desa-kota, jangan mau dibeli kepalamu. “Kalau mau hidup harus makan, kalau mau makan harus kerja, kalau tidak kerja maka tidak makan, kalau tidak makan pasti mati. Itulah undang-undangnya dunia, itulah undang-undangnya hidup, semua makhluk akan tunduk pada undang-undang itu. Dan janganlah kamu menengadah tangan kecuali hanya kepada Allah SWT.” (Kutipan pidato pembebasan irian barat, Bung Karno)

Masih banyak cara lain untuk menyambung hidup, isi kepalamu terlalu mahal untuk dijadikan alat politik oleh oknum-oknum licik yang sesunguhnya tak ada sedikitpun penderitaan rakyat di hati mereka, sebab di hati mereka hanyalah kekuasaan dan jalan menuju kekuasaan dengan menjadikan kepala rakyat sebagai tangganya.

“Kebahagian dari setiap negara lebih bergantung pada watak penduduknya daripada bentuk pemerintahannya.” -Thomas Chandler Haliburton

Akhir kata, pilihlah dirimu sebelum kau memilih orang yang akan memimpinmu, dunia baru dimulai ketika setiap orang telah mengenal dirinya sendiri, maka bersabdalah Socrates 400 SM : kenali dirimu!

Wassalam…