Memoar

“Harmoni itu baik, tapi selaras lebih baik.” -Victor Hugo

Kebahagiaan sejati adalah keselarasan antara pengembaraan menuju jiwa buana (cita-cita) dengan tanggung jawab (amanat sosial-komunal), begitulah kesimpulanku untuk novel Sang Alkemis, karya Paulo Coelho.

Kesuksesan tidak diukur oleh pundi materi yang didapatkan, bukan pula pupularitas duniawi yang diraih, tetapi kesuksesan terletak pada sekokoh apa harga diri seseorang berhasil menyerap realitas empirik menjadi inti ke-aku-an sejati.

Ke-aku-an sejati adalah penemuan jati dan diri tanpa mengebiri kepercayaan orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita, yang (mungkin) telah mereka letakkan dengan penuh harapan di pundak kita sebagai bekal perjuangan.

Apakah aku telah menemukanku?
Belum! proses peng-akuan manusia takkan final hingga ruh terlepas dari tubuh menuju Tuhannya, dan tubuh melebur dengan tanahnya.

Aku adalah dinamitnya Nietzsche, atau mercusuarnya Bung karno, apalah itu hanya sebatas metafor, yang jelas penilaian murni tentangku hanya ada pada kamu, kamu, kamu, dan kamu.

Jakarta 13 Agustus 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s