Salinan Dari Buku

Emile Durkheim membagi bunuh diri menjadi tiga kategori sosial: egoistik, altruistik, dan anomik.

1. Bunuh diri egoistik berlaku pada seseorang yang tidak terintegrasi kuat ke dalam kelompok sosial tertentu. Kekurangan integrasi keluarga menjelaskan mengapa orang yang tidak menikah lebih rentan terhadap bunuh diri ketimbang orang yang menikah, dan mengapa pasangan yang dikaruniai keturunan adalah kelompok yang paling terlindung.

2. Bunuh diri altruistik berlaku pada orang yang menerima bunuh diri sebagai bagian dari cara mereka bergabung ke dalam suatu kelompok. Sebagai contoh adalah prajurit Jepang yang mengorbankan dirinya dalam perang. 

3. Bunuh diri anomik berlaku bagi mereka yang proses integrasinya ke dalam suatu kelompok sosial tertentu mengalami gangguan atau hambatan, atau mereka tidak dapat mengikuti aturan dan norma yang berlaku. Anomi menjelaskan mengapa perubahan yang drastis pada situasi ekonomi membuat seseorang lebih rentan daripada ketika mereka memperoleh keberuntungan. Anomi juga mengacu kepada instabilitas sosial, dan hancurnya nilai dan standar suatu komunitas secara umum.

“Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of psychiatry. 10th ed. New York: Lippincott Williams and Wilkins; 2007. P. 900-901”

Advertisements

Memoar

“Harmoni itu baik, tapi selaras lebih baik.” -Victor Hugo

Kebahagiaan sejati adalah keselarasan antara pengembaraan menuju jiwa buana (cita-cita) dengan tanggung jawab (amanat sosial-komunal), begitulah kesimpulanku untuk novel Sang Alkemis, karya Paulo Coelho.

Kesuksesan tidak diukur oleh pundi materi yang didapatkan, bukan pula pupularitas duniawi yang diraih, tetapi kesuksesan terletak pada sekokoh apa harga diri seseorang berhasil menyerap realitas empirik menjadi inti ke-aku-an sejati.

Ke-aku-an sejati adalah penemuan jati dan diri tanpa mengebiri kepercayaan orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita, yang (mungkin) telah mereka letakkan dengan penuh harapan di pundak kita sebagai bekal perjuangan.

Apakah aku telah menemukanku?
Belum! proses peng-akuan manusia takkan final hingga ruh terlepas dari tubuh menuju Tuhannya, dan tubuh melebur dengan tanahnya.

Aku adalah dinamitnya Nietzsche, atau mercusuarnya Bung karno, apalah itu hanya sebatas metafor, yang jelas penilaian murni tentangku hanya ada pada kamu, kamu, kamu, dan kamu.

Jakarta 13 Agustus 2014

Nol

Nol itu isi bukan kosong,
Nol itu nilai bukan melompong,
Nol lebih dari kuantitas, ia adalah kualitas,
Nol adalah tak terhingga dalam hermeneutika bahasa kehidupan,
Nol adalah pengabaian yang berujung penderitaan,
Nol tidak bicara tentang benar-salah, baik-buruk, indah-jelek,
Nol adalah tentang penyamaran segala sesuatu yang tak disadari menjadi kristal dan inti neutron, proton, electron yang merasuk dalam tubuh manusia,
Nol adalah tiada yang lebih ada dari ada,
Nol itu ada maka ia harus dipelajari,
Nol itu awal dan akhir,
Nol adalah kehancuran dan perbaikan,
Nol adalah nol yang tak nihil dalam keabadian,
Ya Nol…

Anakku

Aku buat sajak ini di bulan bualan, di saat politik lidah-lidah mencengkram akal sehat kemanusiaan,
Anakku, wajahmu malam ini membiru,
Entah mengapa aku tak menangis, pun tak tertawa,
Bagiku, kau hadirkan persamaan yang baru yang tak bisa kucari mana bedanya,
Antara tangis dan tawa, senyum dan sedih, suka dan duka dan segala kosa kata antonim melebur dalam ekstase abstrak kehidupan,

Sudah hilang semua semantik,
Sudah hilang semua keindahan berkata,
Bahkan aku pun hampir tak mampu mengukir indah sajak ini,
Aku tidak menuliskan jutaan doa di nadimu,
Tak pula kubisikkan puluh-ratusan ayat-ayat Tuhan di telingamu,
Sebab kutahu, karena kepercayaanNyalah kau Dia titipkan untukku,

Aku akan membesarkanmu bukan untuk menjadi aku,
Aku akan merawatmu bukan untuk memuaskan kehendakku,
Aku akan mendidikmu bukan untuk patuh terhadap segala perintahku,
Sebab kutahu, kau Dia titipkan bukan untuk tunduk pada keterbatasan absolut ragawiah,

Jadilah manusia, manusia yang bermanusia,
Manusia yang senantiasa setiap saat menuju zat keilahiaanNya,
Kau punya Tuhan, bukan milikku,
Aku menghidupkanmu untuk menghidupkanku,
Aku diamanahkan untuk mengamanahkanmu menuju Maha keamanahan,
Itulah kamu, manusia sejati.

Aku akan membantumu menujuMu,
Dengan segala keterbatasan,
Dengan susah-senang yang aku dan ibumu saat ini lalui,
Dengan duka-suka yang terlebur dalam perjuangan,
Dengan semangat pemberontakan yang hingga sajak ini dibuat masih menjadi dinamit yang utuh dan semakin matang dalam jiwaku, entah kapan ia akan meledak,

Anakku, jadilah manusia sebelum kelak kau berdunia,
Selamat datang dalam skenario jagat raya,
Kun fayakun,
Semua yang terjadi kelak itulah yang terbaik untukmu, untuk kita..

Depok, 21 Juni 2014

Hanya

Banyak orang ingin menjadi ini-itu, begini-begitu,
Hanya sedikit yang ingin menjadi jadi.

Banyak orang ingin menjadi ini-itu, begini-begitu,
Hanya sedikit yang menjadi ingin.

Banyak orang ingin menjadi ini-itu, begini-begitu,
Hanya sedikit yang ingin menjadi yang.

Banyak orang ingin menjadi ini-itu, begini-begitu,
Hanya sedikit yang ingin menjadi sedikit.

Banyak orang ingin menjadi ini-itu, begini-begitu,
Hanya sedikit yang ingin menjadi hanya.

Jakarta, 02 Juli 2014