Warning!

Pemberontakan adalah pinta nurani…

Jika kata tak mampu menggugah,

Diplomasi tak mampu mengubah,

Maka pemberontakan adalah solusi kaum muda!

Advertisements

Revolusi Lewat Doa

Ya Tuhan, turunkan azab dan musibah yang amat sangat pedih kepada penguasa yang mendzolimi rakyatnya.

Matikanlah ia sebagaimana ia mematikan rakyatnya secara perlahan lewat kemiskinan dan penelantaran.

Semoga Engkau mengabulkan doa kami.

Tetapi jikalau pada akhirnya azab yang kami minta tak Engkau turunkan maka barangkali rakyatMu inilah yang gagal memimpin diri sendiri.

Mungkin kami tak mampu menyingkap pesan lewat kedzoliman, atau mungkin kami tak mampu mensyukuri nikmat dan rahmatMu.

Segala puji hanya untukMu…

Amiin.

17 Agustus Bukan HUT RI

Naskah Proklamasi Ketikan Sayuti Melik

Simak baik-baik isi (teks) proklamasi :

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekuasaan d.l.l, diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Bagaimana mungkin hari ini,  tanggal 17 Agustus kita peringati sebagai Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI)? Apakah saat itu (17 Agustus 1945) Negara Kesatuan Republik Indonesia sudah ada/terbentuk? Bukankah yang membacakan proklamasi yakni Bung Karno belum berstatus sebagai pemimpin negara atau presiden pada saat itu?

Ketika kita mengacuh pada teks proklamasi (baik yang ditulis tangan maupun yang diketik) disebutkan bahwa yang menyatakan kemerdekaan Indonesia bukanlah negara melainkan bangsa Indonesia. Bahwasanya PPKI baru melakukan sidang sekaligus membentuk negara pada keesokan harinya yakni 18 Agustus 1945 yang kemudian ditandai dengan pengesahan UUD Negara Republik Indonesia 1945 sebagai landasan konstitusi. Artinya bahwa 17 Agustus 1945 bukanlah HUT RI melainkan hari proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kekeliruan sejarah yang didiamkan sama dengan melanggengkan kebodohan beranak-pinak. Hari ini masyarakat kita masih diliputi ketidak-tahuan dan keikut-ikutan (taklid) buta tanpa mengetahui kebenaran sejarah bangsa–ya, minimal 17 Agustus kita sadari bukanlah HUT RI. Dan ironisnya, hal itu tak digubris sedikit pun oleh negara.

Harapan saya, melalui tulisan ini  semoga masyarakat bisa mengetahui makna tanggal 17 Agustus yang sebenarnya bahwa 17 Agustus adalah hari proklamasi kemerdekaan Indonesia bukanlah HUT RI. Mungkin kelihatannya sepele, tapi kalau terhadap hal-hal kecil saja kita tidak jujur, lantas bagaimana dengan hal-hal besar?

Ah … sudahlah.

MariaKu

Malamku peleburan duka dan suka
Bintangku kata-kata
Penyembahanku bahasa
Wujudku hewan tanpa rasa
Fikirku pola tanpa mata
Tuhanku sujud dan tanya
Imamku adalah fakta

Kesadaranku pemberontakan
Eksistensiku kegelisahan

Kegelisahanku adalah aku
Aku persetubuhan waktu dan hantu
Aku definisi tanpa tahu
Aku tidak tahu
Aku bukan aku

 

Kematian Akal

Ekonomi dan propaganda uang dalam arus simbol dan konsumsi gaya mengakibatkan hilangnya logika sederhana untuk menyanggah keanehan ideologi politik warna warni yang mengusungkan diri sendiri menjadi pahlawan kesiangan Zoro yang berkuda membela rakyat kecil.

Dan media penyambung hidup ditemui dalam transportasi massal yang disesaki oleh manusia-manusia yang berdesak dan saling menghimpit tanpa partisi sehingga setiap kulit saling bersentuhan mengirim impuls seks menjadi libido tanpa dominasi akal sehat, yang kemudian berakhir pada pelecehan seksual dan dikriminalisasi oleh berita televisi menjadikan pengguna transportasi umum sebagai kambing hitam dari segala sisi.

Substansi kemenangan terletak di dengkul kapitalisme yang terpampang di etalase dengan harga ratusan dolar. Melihat industri menjadi pergolakan seni dan berpihak, seperti peniruan besar dalam definisi pencipta, Francis Fukuyama yang hebat membuat dongeng ilmiah sebagai acuan wajib para pemikir konspiratif. Dan makna adalah seribu asumsi manusia yang menjelma lewat wacana hermeneutika dan interpretasi permainan kata dan angka.

Konspirasi gelap dalam balutan media massa yang berhasil menghegemoni massa yang putus asa karna kekeringan tak kunjung basah sebab jasa adalah komersialisasi tahta dan kuasa.

Mendengar gumam pemberontakan dalam bungkusan sajak suara seperti ocehan Adolf Hitler di depan meja parlementeria, yang ceriah, menyimak kuliah, dan menstimulus perjuangan di suriah.

Kesadaran adalah embrio revolusi…
Kesadaran adalah embrio revolusi…
Kesadaran adalah embrio revolusi…

Muak

Persetan dengan kertas-kertas itu,
Persetan dengan lembaran-lembaran munafik di dalam rumah-rumah itu,
Kenapa seluruh manusia selalu memuja kebohongan abadi disana?
Di saat mereka pergi dan semua kembali membunuh nyawa-nyawa anak kecil dari langit yang membawa pesan..

Pergilah kalian!
Bawa kembali ibuku yang telah hilang diantara air mata penantian,
Bersembunyi di balik bayangan malam tanpa langit di kaki gunung,
Bersembunyi di antara rasa yang tak berujung,
Dan kami hanya bisa duduk dan termenung..

Oh tidak!
Kami punya gumam,
Kami punya tanya,
Bagaimana bisa kau tercipta untuk diberi perintah?
Karna tanya ini akan menggelisahkan jiwa pendusta nurani,
Gumam ini akan menghantui malam dan siangmu,
Sehingga spiones akan menjadi pembangkangan yang sempurna..

Penalaran absurdum mengguncang damai persimpangan,
Tindak nista mengundang lahirnya pemberontakan,
Kau, kau, kau, dan semesta menyaksi,
Kami, kami, kami, yang punya aksi,
Tutur tak mampu meluntur,
Hingga alam menjadi sebab turunnya guntur,
Dan pinta kami adalah kau harus jujur!

Malaikat dari timur, malaikat dari barat,
Malaikat dari utara dan selatan,
Mari berkumpul dan saksikan para wayang adat itu menari,
Bergoyang bersama irama yang monoton,
Sepi tak bernada,
Kau tak mencipta hati, tak pula mencipta akal,
Bagaimana bisa kami merasa dan berpikir rasional?
Kau tak mencipta lisan, tak pula mencipta tangan,
Bagaimana bisa kami bicara diatas tinta kebenaran?
Kau tak mencipta jujur, tak pula mencipta nurani,
Bagaimana bisa kami berkata jujur sesuai hati nurani?

Hahaha..
Lihat diri kita, lihat siapa kita?
Lihat, ayooo lihaat!
Kenapa kita bertanya di saat orang lain diam?
Dan kenapa kita bicara di saat orang lain tak mendengar?

Yaa kekasih,
Apakah engkau masih disana?
Kemarilah!
Kemarilah dan aku ingin membisikkan sesuatu padamu,
Menyatakan perasaanku yang sangat ingin kunyatakan kepadamu, cintaku,
Aku, aku ingin membunuhmu!

Sepatah Latah

Sadar Tapi Sebenarnya Tak Sadar

“Kenyataan hanyalah kefanaan yang tak disadari.”

Denis Malhotra

Ketika egosentris dan cinta bersenyawa dalam tubuh tanpa rasionalitas maka pernyataan yang terdengar dari masing-masing kelompok dan tiap-tiap orang adalah “Kamilah yang menang, kalian kalah… Akulah yang benar, kamu salah….”

Kalau sudah begitu maka jangan kau tanya mana yang benar mana yang salah, mana menang mana kalah sebab itu bukanlah kebenaran. Kebenaran tak se-egois dan se-non-bijaksana itu. Mungkin itu (hanya) informasi atau opini sesat tanpa landasan obyektif-rasionalitatif. dan jika itu hanya sebatas informasi-opini-mainstream publik maka itu bukanlah kebenaran, ia (informasi) harus diolah menjadi kearifan setelah didapat pola hubungannya terlebih dahulu–tanpa mengabaikan prinsip dasar sistem.

“Tak ada fakta, tak ada fakta! yang ada hanya interpretasi!” begitulah kata Nietzsche. Ya, dunia post-modern, dunia tanpa fakta, subyektifitas menjadi panglima kekitaan, virtualitas mengungguli realitas, dan dunia hari ini hanyalah iklan sabun dan pembalut yang ditayangkan milyaran kali di televisi.

Maka jangan kau katakan duniamu nyata sebab kita juga saat ini bagian dari iklan yang ditonton oleh sesuatu. Ya, bisa saja saat ini kita sedang berada di televisi dan ditonton oleh sesuatu yang bukan kita. Dan dengan santai ia berkata, “Hmm … manusia-manusia itu menganggap dunianya nyata, padahal tidak, nyatanya manusia adalah fana jua.”


“Hati-hati! yang di cermin kadang lebih dekat dari yang tampak!”

-Jean Baudrillard