Berbagi Sedikit Tentang Rabindranath Tagore

Rabindranath Tagore (1861-1941)

Rabindranath Tagore, itulah namanya. sekilas jika dilihat dari penampilan luarnya maka makna yang dilahirkan tiap-tiap kepala akan tak jauh berbeda. secara mudah khalayak ramai akan mensejajarkan dia dengan tokoh-tokoh seperti Proudhon, Bakunin, Marx, Engels, mungkin juga Nietzsche, mungkin juga Einstein, mungkin juga mungkin dsb dst.

Ya, itulah manusia-manusia urakan yang mungkin di zamannya, pisau cukur dan gunting rambut masih langka, atau saat itu model penampilan yang lagi ngetrend adalah seperti itu. entahlah, yang jelas jika hari ini mereka masih konsisten dengan penampilannya itu maka orang enggan untuk mendengar apa yang mereka ucapkan dan katakan, sebab hari ini orang melihat dan mendengar seseorang berdasarkan apa yang dia lekatkan pada tubuhnya, mungkin jam tangannya Rolex, kemejanya Prada, celananya Valentino, sepatunya Royal, dan dengan rambut mengkilap maka menciumi tangan orang yang berpenampilan demikian adalah kewajiban moral universal yang dibentuk secara tak sadar oleh kapitalisme dalam menciptakan klas-klas dalam relasi antar manusia.

Sudahlah, itu bukan tujuan penulisan saya kali ini, yang jelas nama-nama tokoh yang disebutkan di atas adalah orang-orang hebat yang tak pernah mati, mereka masih hidup lewat karya-karyanya yang monumental dan mungkin akan tetap abadi dalam kehidupan bumi manusia.

Dan Rabindranath Tagore sebagai fokus tulisan ini adalah salah satu di antara penyair-penyair besar yang ada di dunia ini, lelaki yang lahir pada tahun 1861 di Calcuta, India ini sejak kecil memang sudah sangat mencintai seni, hal ini yang kemudian membuat Tagore kecil akrab dengan sajak-sajak penyair India dan Persia. Pengalaman apresiasinya itu bukannya tidak membawa pengaruh pada karya-karyanya kemudian. Konon, Tagore banyak terpengaruh Hafiz, penyair sufi (Persia) abad ke-14.

Dan jangan salah, lelaki urakan ini bahkan pernah menerima hadiah Nobel untuk kesusastraan (Nobel Award of Literature) dan lebih hebatnya lagi, dia adalah lelaki Asia pertama yang mendapat Nobel. Dan pada tahun 1915 menerima gelar kebangsawanan sir dari kerajaan Inggris. Tagore meninggal tahun 1941, di saat Indonesia sedang berjuang menuju kemerdekaan bangsanya yang setahun kemudian (1942) Jepang masuk untuk mempermudah Indonesia menuju revolusi nasional.

Berikut saya sajikan beberapa puisinya yang lembut dan feminin bernuansa sufistik, yang jauh dari kesan kasar dan urakan seperti penampilannya. selamat menyantap hidangannya :

Begitulah Bayi

Jika memang dia inginkan, bayi dapat
melesat terbang ke surga, saat ini juga.

Bukan tanpa alasan, dia tak meninggalkan kita.

Bayi teramat cinta merebahkan kepalanya yang
di dada ibunya, dan ia juga tak tahan
bila ia kehilangan tatap pandangan ibunya.

Bayi tahu seluruh makna kata bijaksana,
kata yang hanya sedikit orang di bumi
yang bisa memahami arti sebenar-benarnya.

Bukan tanpa sebab, dia tak ingin bicara.

Satu-satunya yang ingin ia pelajari adalah
kata-kata ibunya, kata yang terucap dari bibir
ibunya. Sebab itu, ia seakan tak tahu apa-apa.

Bayi punya setimbun emas dan mutiara, tapi
dia datang ke bumi ini seperti pengemis kedana.

Bukan tanpa karena, dia datang seperti menyaru.

Pengemis kecil ini hanya berpura tak berdaya,
agar bisa memohon kekayaan cinta ibunya.

Di negeri kecil bulan sabit, bayi
teramat bebas dari segala belenggu.

Bukan tanpa apa-apa, dia pasrahkan kebebasannya.

Dia tahu, ada ruang bagi kegirangan tak habis-habis
di sudut kecil hati ibu, dan terperangkap dalam
dekapan lengan, jauh lebih manis dari kebebasan.

Bayi sesungguhnya tak pernah tahu tangisan.
Dia tinggal di negeri berlimpah kebahagiaan.

Bukan tanpa dalih, dia mencucurkan air mata.

Sebab dengan senyum di wajah ramahnya,
dia memikat rasa kasih ibu padanya,
dan tangis kecilnya menjalin
dua ikatan: belas kasihan dan cinta.
***

Doa

Memberkati hati kecil ini, jiwa putih ini
telah memenangkan ciuman surga bagi bumi kita.

Dia mencintai cahaya matahari, dia mencintai
dan melihatnya wajah ibu.

Dia tidak belajar untuk membenci debu,
dan berminat setelah emas.
Genggam dia untuk jantungmu
dan memberkatinya.

Dia telah datang ke negeri ini
menempuh seratus jalan lintas.

Aku tidak tahu bagaimana dia memilihmu
dari orang-orang yang datang ke pintumu,
dan memegang tanganmu
demi meminta jalan.

Ia akan mengikutimu, tertawa dan berbicara,
dan tak ada keraguan dalam hatinya.
Jauhkan kepercayaannya, memimpin lurus
dan memberkatinya. Meletakkan tangannya
di kepalanya, dan berdoa
bahwa meskipun gelombang di bawah mengancam,
namun napas dari atas dapat datang
dan mengisi layar, dan menghembusnya
ke surga perdamaian. Lupakan dia jika kau tidak tergesa,
dan biarkan dia datang ke hati
dan memberkati.
***

Izinkan

Izinkan aku berdoa bukan agar terhindar
dari bahaya, melainkan agar aku
tiada takut menghadapinya.

Izinkan aku memohon bukan agar
penderitaanku hilang melainkan agar hatiku
teguh menghadapinya,

Izinkan aku tidak mencari sekutu
dalam medan perjuangan hidupku
melainkan memperoleh kekuatanku sendiri.

Izinkan aku tidak mengidamkan
dalam ketakutan dan kegelisahan
untuk diselamatkan, melainkan harapan
dan kesabaran untuk memenangkan
kebebasanku. Berkati aku, sehingga aku
tidak menjadi pengecut
dengan merasakan kemurahan-Mu
dalam keberhasilanku semata,
melainkan biarkan aku menemukan
genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku.
***

Panggilan Hidup

Jika gong berdegung sepuluh kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”

Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.

Aku ingin jadi penjual kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik, Manik batu!”

Jika sore hari pukul empat aku pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit rumput di halaman.

Ia bekerja sesuka hatinya, mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah panas matahari, kehujanan tanpa seorang pun melarangnya.

Aku ingin jadi tukang kebun yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku.
Jika malam tiba dan ibu menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang.

Jalanan gelap, dan sepi, dan lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya.

Peronda itu berjalan membawa lampunya bersama banyang-banyangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.

Aku ingin jadi peronda dan berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan lampuku.
***

Tamu

Lama tiada tamu berkunjung ke rumah, pintu-pintuku tertutup, jendela terpalang: kupikir malam-malamku akan sepi.

Ketika mataku kubuka kusaksikan gelap telah lenyap.

Aku bangkit dan lari kemudian kulihat batu gapura rumah-ku hancur, dan lewat pintu terbuka angin dan cahayamu mengibarkan bendera-benderanya.

Dulu ketika aku jadi tawanan di rumahku sendiri, dan pintu-pintu tertutup, hatiku senantiasa ingin melarikan diri dan pergi mengembara.

Kini aku masih saja duduk di muka gapuraku yang hancur, menunggu kehadiramu.

Kini kau telah mengikatku dengan kebebasanku.
***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: