Teologi Ali Syari’ati

Kami adalah pribadi yang sederhana,

Kami tidak meminta apa-apa, tak ada pula kehendak untuk menyusahkan siapa-siapa,

Tetapi apabila kalian semakin gencar dalam menebar tindas,

Maka jangan heran jika kami menjadi buas.

Posisi manusia berada tepat di tengah-tengah bentangan antara Tuhan dan hewan, antara tanah dan cahaya, bumi dan langit, kerendahan dan kemuliaan, kehinaan dan keilahian. begitulah kiranya gambaran analogis Ali Syari’ati tentang makhluk yang disebut manusia.

 Manusia adalah sintesa dari kedua hal tersebut, dan kedua hal tersebut (tanah dan keilahian) yang setiap saat senantiasa saling tarik menarik dan akhirnya akan memaksa manusia untuk memilih salah satu di antara keduanya.

Pada masa awal penciptaannya manusia berada pada titik netral, dan seiring dengan perjalanan hidupnya manusia melakukan gerak evolusi, baik evolusi progresif menuju Keilahian maupun evolusi regresif menuju lumpur busuk. Jika manusia melakukan evolusi progresif maka manusia akan tiba pada kemuliaan dan kesempurnaannya yang hakiki (bersatu denganNya). Sedangkan jika yang terjadi adalah evolusi regresif maka manusia jatuh derajatnya dan hanya setara dengan tanah sebagai simbol kehinaan, yang dalam bahasa Alquran disebut lebih jelek dari binatang ternak.

 Setelah Tuhan menciptakan Adam, kemudian Tuhan mengajarkan kepada Adam pengetahuan tentang “nama-nama” segala sesuatu. Jadi dalam penciptaan manusia, Tuhan adalah pencipta sekaligus sebagai guru pertama bagi manusia. Dan selanjutnya, manusia kemudian tampil sebagai pemberi nama bagi dunianya. Karena “perlakuan” Tuhan yang begitu istimewa kepada manusia, malaikat pun protes kepada tuhan, karena Tuhan telah mengistimewakan manusia. Menanggapi protes malaikat tersebut, Tuhan pun kemudian meminta Adam untuk mendemonstrasikan kemampuannya di hadapan para malaikat, lalu Tuhan menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Syari’ati menyatakan, sujudnya malaikat kepada Adam adalah perlambang dari humanisme. Derajat manusia diangkat sedemikian rupa setingkat lebih tinggi dari para malaikat suci. Ketinggian derajat manusia atas malaikat bukanlah karena rasialisme, melainkan karena manusia memiliki pengetahuan.

Satu hal yang menarik dalam falsafah penciptaan manusia menurut Syari’ati, yaitu hanya manusia sajalah yang diberikan amanah oleh Tuhan untuk mengemban tugas sebagai khalifahNya. Oleh karena manusia memiliki kemampuan dan keyakinan untuk mengemban tugas berat tersebut. Maka terbuktilah bahwa manusia dianugerahi oleh Tuhan keberanian, keutamaan, kearifan dan kebijakan di alam semesta. Manusia bukan hanya sekedar sebagai khalifahNya, melainkan juga pengemban amanahNya, dan penjaga karuniaNya yang paling berharga. Beliau mengutip pernyataan Jalal al-Din al-Rumi, bahwa amanat dan karunia Tuhan itu adalah kehendak bebas.

Syari’ati membagi manusia ke dalam dua kategori, yaitu insan dan basyarBasyar adalah keberadaan manusia dalam tahap makhluk yang biasa (being), yang tak memiliki kemampuan berubah sebagaimana makhluk Tuhan yang lain. Basyar dalam istilah Alquran memiliki kesamaan arti dengan istilah l’etre en soi atau being in self  (ada dalam diri) dalam filsafat eksistensialisme Jean Paul Sartre. Bering in self  adalah modus keberadaan manusia yang statis, pasif, netral (tidak afirmatif dan tidak juga negatif), dan tanpa tujuan.

L’etre en soi sebagaimana basyar adalah keberadaan manusia sebagai “seonggok” benda yang tak memiliki kesadaran dan kehendak bebas. Sedangkan insan adalah manusia dalam artian “menjadi” (becoming). Atau dengan kata lain insan adalah keberadaan manusia yang telah diberikan daya oleh kekuatan Ruh Ilahi, sehingga mampu bergerak dinamis.

Konsep insan dalam pemikiran Syari’ati identik dengan konsep l’etre pour soi atau being for self (ada untuk diri). L’etre pour soi adalah modus keberadaan manusia yang berbeda dengan l’etre en soi.L’etre pour soi adalah modus keberadaan manusia yang memiliki kesadaran akan diri dan realitas disekitarnya dan kehendak bebas dalam menentukan pilihannya, sehingga manusia dapat melakukan gerak aktif dan dinamis sebagai makhluk yang “menjadi”. Pembagian Syari’ati terhadap dua kategori keberadaan manusia ini sangat mungkin diinspirasi oleh pemikiran eksistensialisme Jean paul Sartre. Namun, berbeda dengan Sartre, Ali Syari’ati gerak kemenjadian manusia memiliki tujuan yang jelas yaitu Allah sebagai sentrum dan modus eksistensi. Ali Syari’ati mengkritik Sartre dengan menyatakan moral eksistensialismenya dan konsekuensi-konsekuensinya yang menggelikan.

Menurut Ali Syari’ati, manusia sempurna atau manusia ideal adalah khalifah Tuhan yang menerima amanah Tuhan berupa kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas yang mewujud dalam diri manusia sebagai makhluk dua dimensi. Dengan adanya pertarungan dua unsur dalam diri manusia  (Keilahian dan lumpur busuk) memungkinkan manusia untuk berproses menjadi manusia ideal (insan kamil). Karena dengan adanya potensi kesadaran, kehendak bebas, dan kreatifitas yang dimiliki manusia, memungkinkan bagi manusia untuk melakukan pertarungan “di dalam dirinya sendiri”, dan berakhir dengan kemampuan manusia untuk memenangkan dimensi Keilahian atas unsur lumpur busuk, dengan berakhlak sebagaimana akhlak Allah.

Manusia ideal adalah manusia theomorphis, yaitu manusia yang dalam pribadinya, keilahian telah memenangkan pertarungan atas belahan dirinya yang berkaitan dengan lumpur busuk, sebagai representasi Iblis. Manusia ideal, adalah manusia yang telah terbebas dari kebimbangan dan kontradiksi dari “dua infinita“. Menurut Syari’ati manusia ideal, memiliki tiga ciri utama, yaitu kebenaran, kebaikan, dan keindahan. Dengan kata lain manusia ideal adalah manusia yang mampu memadukan secara integral pengetahuan, akhlak, dan seni dalam dirinya. Ia adalah khalifah Allah yang komitmen terhadap tiga anugerah Allah kepadanya, yaitu kesadaran diri, kehendak bebas, dan kreatifitas. Manusia ideal adalah khalifah Allah yang telah menempuh jalan penghambaan yang sukar sembari memikul beban amanah, hingga ia sampai ke ujung batas dan menjadi khalifah dan “pemegang amanahNya”.11 Manusia theomorphis adalah manusia yang berakhlak sebagaimana akhlak Allah.

Manusia menjadi ideal bukan karena menjalin hubungan pribadi dengan Tuhan seraya mengesampingkan urusan kemanusiaan, dan bukan pula manusia yang menafikan Tuhan dalam gerak kehidupannya. Manusia menjadi sempurna, justru karena terlihat dalam perjuangan kesempurnaan umat manusia secara menyeluruh.12 Menurut Syari’ati, manusia menjadi ideal adalah dengan menemukan dan memperjuangkan umat manusia, dan dengannya ia akan “menemukan” Tuhan. Dengan kata lain manusia ideal adalah manusia yang tidak meninggalkan alam dan sesama manusia,13sembari di saat yang sama ia terus melakukan “hubungan mesra” dengan Tuhan sebagai kekasihnya.

Syari’ati dengan sangat puitis mendeskripsikan mausia ideal tersebut sebagai manusia yang akalnya senantiasa berpikir filosofis, tapi hal ini tidak lantas membuatnya terlena atas nasib umat manusia. Keterlibatan politik tidak membuatnya demagog dan riya. Ilmu tidak membuat keyakinan dan cita-citanya menjadi luntur. Sedangkan keyakinannya tidak menumpulkan akalnya dan menghalangi deduksi logisnya. Kesalehan tidak membuatnya menjadi pertapa yang tak berdaya (asketik). Aktivitas sosial tidak membuat tangannya ternoda oleh immortalitas. Manusia ideal adalah manusia jihad dan ijtihad, manusia syair dan pedang, manusia kesepian dan komitmen. Emosi dan genius, kekuasaan dan cinta kasih, keyakinan dan pengetahuan. Dia adalah manusia yang menyatukan semua dimensi kemanusiaan sejati.

Penggambaran Ali Syari’ati tersebut tentang sosok mansuia ideal nyaris mustahil ditemukan dalam realitas kemanusiaan saat ini yang penuh dengan kepalsuan. Tapi, jika kita kembali pada tujuan sejati penciptaan manusia maka kita akan meyakini secara pasti, disetiap masa pasti ada satu manusia yang dengan kesungguhannya berhasil meraih derajat mulia tersebut.

Jadilah manusia agung

Bagai seorang syahid

Seorang imam

Bangkit

Berdiri

Di antara rubah, srigala,

Tikus

Domba

Di antara nol-nol

Bagai Yang Satu

*Ali Syari’ati dalam puisi “Satu yang Diikuti Nol-nol yang Tiada Habis-habisnya

 

DAFTAR PUSTAKA

Adian, Donny Gahral. Arus Pemikiran Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra. 1999.

 Dagun, M. Save. Filsafat Eksistensialisme. Jakarta: Rineka Cipta. 1990.

 Darmawan, Eko Prasetyo. Agama Bukan Candu. Yogyakarta: Resist Book. 2005.

 Hanafi,Hassan.Min al-Aqidah ila al-Tsawrah.Diterjemahkan oleh Asep Usman Ismail, Suadi Putro, dan Abdul Rauf dengan Judul Dari Akidah ke Revolusi. Jakarta: Paramadina.2003.

 Hassan, Fuad. Berkenalan dengan Eksisrensialisme. Jakarta: Pustaka jaya. 1992

 Kazhim, Musa. Belajar Menjadi Sufi. Jakarta: Lentera Basritama. 2002.

 Malakky,Ekky.Ali Syari’ati : Filosof Etika dan Arsitek Iran Modern.Bandung: Teraju, 2003.

 Muthahhari, Murtadha.­Ma­s’ala-ye Syenokh.Diterjemahkan oleh Muhammad Jawad Bafaqih, dengan Judul Mengenal Epistemologi. Jakarta: Lentera.2001.

 _______, Syesyi Makoleh, Diterjemahkan oleh Muhammad Ilyas Hasan dengan Judul Kumpulan Artikel Pilihan.Jakarta: Lentera Basritama.2002.

 Rahmena,Ali.an Islamic Utopian: a Political Biography of Ali Syari’ati, Diterjemahkan oleh Dien Wahid, dkk dengan Judul Ali Syari’ati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner. Jakarta: Erlangga. 2002.

 _______, Para Perintis Zaman Baru Islam.: Mizan.1995.

 Ridwan, M. Deden (ed). Melawan Hegemoni Barat: Ali Syari’ati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia. Jakarta: Lentera Basritama. 1999

 Shimogaki, Kazuo. Between Modernity and Postmodernity the Islamic Left and Dr. Hassan Hanafi’s Thought : a Critical Reading. Diterjemahkan oleh M. Imam Aziz dan M. Jadul Maula dengan JudulIslam Kiri: Antara Modernisme dan Postmodernisme Telaah Kritis Pemikiran Hassan Hanafi. Yogyakarta: LkiS. 2004.

 Simon, Roger. Pemikiran Politik Antonio Gramsci. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2002.

 Supriyadi,EkoSosialisme Islam: Pemikiran Ali Syari’ati. Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2003.

 Syari’ati,Ali.aGlance at Tomorrow History.Diterjemahkan oleh Satria Panindito dengan Judul Islam Agama Protes.Jakarta: Pustaka Hidayah.1992.

 _______, Abu Dzar, Diterjemahkan oleh Tim Muthahhari Paperbacks dengan Judul Abu Dzar: Suara Parau Menentang Penindasan.Bandung: Muthahhari Paperbacks.2001.

 _______, al-Islam, al-Insan, wa Madaris al-Gharb. Diterjemahkan oleh Afif Muhamamd dengan Judul Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat. Bandung: Pustaka Hidayah. 1996.

 _______, Hajj, Diterjemahkan oleh Burhan Wirasubrata dengan Judul Makna Haji Jakarta: al-Huda.2002.

 _______, Ideologi Kaum Intelektual: Suatu Wawasan Islam, Diterjemahkan oleh Haidar Bagir.Bandung: Mizan, 1989.

 _______, Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi. Diterjemahkan oleh MS. Nasrulloh dan Afif Muhammad. Bandung: Mizan, 1992.

 _______, Man and Islam. Diterjemahkan oleh M. Amien Rais dengan Judul Tugas Cendekiawan Muslim. Jakarta: Srigunting Press. 2001.

 _______, On the Sociology Islam. Diterjemahkan oleh Saifullah Mahyuddin dengan JudulParadigma kaum Tertindas. Jakarta: al-Huda, 2001.

 _______, Religion Versus “Religion”.Diterjemahkan oleh Afif Muhammad dan Abdul Syukur dengan Judul Agama Versus “Agama”. Jakarta: Pustaka Hidayah.2000.

 Zuhri,Muhammad.Langit-langit Desa: Himpunan Hikmah dari Langit-langit Sekarjalak.Bandung: Mizan.1993.

Advertisements

Salinan Dari Buku

nietzsche_Heidegger

Mengutuk heidegger dan nietzsche sebagai nazi adalah konyol karena “suatu hari kita akan bertanya pada diri kita sendiri jika heidegger sendiri benar-benar ada”. Sejarah telah menjadi mitos dan kita mencari korban-korban; sebelum kejahatan semacam holocaust menjadi mitos, “kejahatan telah pertama-tama terbebas dalam kenyataan sejarah. Kalau tidak, karena kita telah, dan masih, belum mampu mencapai kesepakatan historis dengan semua hal ini-fasisme, kamp-kamp konsentrasi, pembasmian-kita akan dikutuk karena selalu mengulangnya terus sebagai adegan utama”. Juga “dalam memandang ini semua, tidak bisakah kita langsung melompat sisa abad ini? Saya bermaksud mengeluarkan suatu petisi kolektif.. Meminta tahun 90an untuk dibatalkan, sehingga kita bisa secara langsung meloncat dari tahun 89 ke tahun 2000”.

“Hunting Nazis and Losing Reality”, New Statesman, 115:2969, (19 Februari 1988), 16-17.

Berbagi Sedikit Tentang Rabindranath Tagore

Rabindranath Tagore (1861-1941)

Rabindranath Tagore, itulah namanya. sekilas jika dilihat dari penampilan luarnya maka makna yang dilahirkan tiap-tiap kepala akan tak jauh berbeda. secara mudah khalayak ramai akan mensejajarkan dia dengan tokoh-tokoh seperti Proudhon, Bakunin, Marx, Engels, mungkin juga Nietzsche, mungkin juga Einstein, mungkin juga mungkin dsb dst.

Ya, itulah manusia-manusia urakan yang mungkin di zamannya, pisau cukur dan gunting rambut masih langka, atau saat itu model penampilan yang lagi ngetrend adalah seperti itu. entahlah, yang jelas jika hari ini mereka masih konsisten dengan penampilannya itu maka orang enggan untuk mendengar apa yang mereka ucapkan dan katakan, sebab hari ini orang melihat dan mendengar seseorang berdasarkan apa yang dia lekatkan pada tubuhnya, mungkin jam tangannya Rolex, kemejanya Prada, celananya Valentino, sepatunya Royal, dan dengan rambut mengkilap maka menciumi tangan orang yang berpenampilan demikian adalah kewajiban moral universal yang dibentuk secara tak sadar oleh kapitalisme dalam menciptakan klas-klas dalam relasi antar manusia.

Sudahlah, itu bukan tujuan penulisan saya kali ini, yang jelas nama-nama tokoh yang disebutkan di atas adalah orang-orang hebat yang tak pernah mati, mereka masih hidup lewat karya-karyanya yang monumental dan mungkin akan tetap abadi dalam kehidupan bumi manusia.

Dan Rabindranath Tagore sebagai fokus tulisan ini adalah salah satu di antara penyair-penyair besar yang ada di dunia ini, lelaki yang lahir pada tahun 1861 di Calcuta, India ini sejak kecil memang sudah sangat mencintai seni, hal ini yang kemudian membuat Tagore kecil akrab dengan sajak-sajak penyair India dan Persia. Pengalaman apresiasinya itu bukannya tidak membawa pengaruh pada karya-karyanya kemudian. Konon, Tagore banyak terpengaruh Hafiz, penyair sufi (Persia) abad ke-14.

Dan jangan salah, lelaki urakan ini bahkan pernah menerima hadiah Nobel untuk kesusastraan (Nobel Award of Literature) dan lebih hebatnya lagi, dia adalah lelaki Asia pertama yang mendapat Nobel. Dan pada tahun 1915 menerima gelar kebangsawanan sir dari kerajaan Inggris. Tagore meninggal tahun 1941, di saat Indonesia sedang berjuang menuju kemerdekaan bangsanya yang setahun kemudian (1942) Jepang masuk untuk mempermudah Indonesia menuju revolusi nasional.

Berikut saya sajikan beberapa puisinya yang lembut dan feminin bernuansa sufistik, yang jauh dari kesan kasar dan urakan seperti penampilannya. selamat menyantap hidangannya :

Begitulah Bayi

Jika memang dia inginkan, bayi dapat
melesat terbang ke surga, saat ini juga.

Bukan tanpa alasan, dia tak meninggalkan kita.

Bayi teramat cinta merebahkan kepalanya yang
di dada ibunya, dan ia juga tak tahan
bila ia kehilangan tatap pandangan ibunya.

Bayi tahu seluruh makna kata bijaksana,
kata yang hanya sedikit orang di bumi
yang bisa memahami arti sebenar-benarnya.

Bukan tanpa sebab, dia tak ingin bicara.

Satu-satunya yang ingin ia pelajari adalah
kata-kata ibunya, kata yang terucap dari bibir
ibunya. Sebab itu, ia seakan tak tahu apa-apa.

Bayi punya setimbun emas dan mutiara, tapi
dia datang ke bumi ini seperti pengemis kedana.

Bukan tanpa karena, dia datang seperti menyaru.

Pengemis kecil ini hanya berpura tak berdaya,
agar bisa memohon kekayaan cinta ibunya.

Di negeri kecil bulan sabit, bayi
teramat bebas dari segala belenggu.

Bukan tanpa apa-apa, dia pasrahkan kebebasannya.

Dia tahu, ada ruang bagi kegirangan tak habis-habis
di sudut kecil hati ibu, dan terperangkap dalam
dekapan lengan, jauh lebih manis dari kebebasan.

Bayi sesungguhnya tak pernah tahu tangisan.
Dia tinggal di negeri berlimpah kebahagiaan.

Bukan tanpa dalih, dia mencucurkan air mata.

Sebab dengan senyum di wajah ramahnya,
dia memikat rasa kasih ibu padanya,
dan tangis kecilnya menjalin
dua ikatan: belas kasihan dan cinta.
***

Doa

Memberkati hati kecil ini, jiwa putih ini
telah memenangkan ciuman surga bagi bumi kita.

Dia mencintai cahaya matahari, dia mencintai
dan melihatnya wajah ibu.

Dia tidak belajar untuk membenci debu,
dan berminat setelah emas.
Genggam dia untuk jantungmu
dan memberkatinya.

Dia telah datang ke negeri ini
menempuh seratus jalan lintas.

Aku tidak tahu bagaimana dia memilihmu
dari orang-orang yang datang ke pintumu,
dan memegang tanganmu
demi meminta jalan.

Ia akan mengikutimu, tertawa dan berbicara,
dan tak ada keraguan dalam hatinya.
Jauhkan kepercayaannya, memimpin lurus
dan memberkatinya. Meletakkan tangannya
di kepalanya, dan berdoa
bahwa meskipun gelombang di bawah mengancam,
namun napas dari atas dapat datang
dan mengisi layar, dan menghembusnya
ke surga perdamaian. Lupakan dia jika kau tidak tergesa,
dan biarkan dia datang ke hati
dan memberkati.
***

Izinkan

Izinkan aku berdoa bukan agar terhindar
dari bahaya, melainkan agar aku
tiada takut menghadapinya.

Izinkan aku memohon bukan agar
penderitaanku hilang melainkan agar hatiku
teguh menghadapinya,

Izinkan aku tidak mencari sekutu
dalam medan perjuangan hidupku
melainkan memperoleh kekuatanku sendiri.

Izinkan aku tidak mengidamkan
dalam ketakutan dan kegelisahan
untuk diselamatkan, melainkan harapan
dan kesabaran untuk memenangkan
kebebasanku. Berkati aku, sehingga aku
tidak menjadi pengecut
dengan merasakan kemurahan-Mu
dalam keberhasilanku semata,
melainkan biarkan aku menemukan
genggaman tangan-Mu dalam kegagalanku.
***

Panggilan Hidup

Jika gong berdegung sepuluh kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”

Tak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat ke mana ia harus pergi.

Aku ingin jadi penjual kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik, Manik batu!”

Jika sore hari pukul empat aku pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit rumput di halaman.

Ia bekerja sesuka hatinya, mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah panas matahari, kehujanan tanpa seorang pun melarangnya.

Aku ingin jadi tukang kebun yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku.
Jika malam tiba dan ibu menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang.

Jalanan gelap, dan sepi, dan lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya.

Peronda itu berjalan membawa lampunya bersama banyang-banyangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.

Aku ingin jadi peronda dan berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan lampuku.
***

Tamu

Lama tiada tamu berkunjung ke rumah, pintu-pintuku tertutup, jendela terpalang: kupikir malam-malamku akan sepi.

Ketika mataku kubuka kusaksikan gelap telah lenyap.

Aku bangkit dan lari kemudian kulihat batu gapura rumah-ku hancur, dan lewat pintu terbuka angin dan cahayamu mengibarkan bendera-benderanya.

Dulu ketika aku jadi tawanan di rumahku sendiri, dan pintu-pintu tertutup, hatiku senantiasa ingin melarikan diri dan pergi mengembara.

Kini aku masih saja duduk di muka gapuraku yang hancur, menunggu kehadiramu.

Kini kau telah mengikatku dengan kebebasanku.
***

Pamflet Revolusi

Semua orang berpikir tentang perubahan, tapi segelintir orang saja yang mencapainya dengan tindakan, sedang yang lainnya hanya menatap kemaluannya dengan penuh kekalutan…

Pamflet darurat!

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan lahir dan batin adalah hak segala umat, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di dunia ini harus dimusnahkan semusnah-musnahnya, sebab perlawanan akan segera membludak, kendatipun kecil, tetapi keyakinan selalu besar, dan kekuatan keyakinan adalah suatu kedahsyatan alam yang telah ditetapkan Tuhan seru sekalian alam.

Bahwa tidak ada kata diam di antara mayoritas diam, mayoritas bukan berarti seluruh, dan diam tidak berlaku bagi seluruh umat yang berfikir, sehingga kemungkinan yang paling mungkin adalah memungkinkan segalanya menjadi mungkin.

Maka dari itu, jangan pernah katakan keadilan sosial adalah suatu utopia belaka, sebab air yang semakin ditekan akan memuncratkan air yang lebih besar, perut yang semakin keroncong semakin membuat manusia berusaha keras untuk mencari makan.

Begitupun dengan situasi dan kondisi sosial bermasyarakat, semakin keadaan bergejolak, maka kesadaran masyarakat akan perubahan itu semakin besar, dan itu tak bisa dihindari, mau, tidak mau, perubahan akan terjadi.

Bukan kesadaran yang menentukan keadaan, namun keadaanlah yang menghasilkan kesadaran sosial. -Karl Marx