CATATAN AKHIR TAHUN TENTANG INDONESIA

Amerika ke bulan
pesawat luar angkasa India dekati planet Mars
Rusia, Italia, Perancis, dan Cina telah hidup di Mars
Jepang sukses menjalankan berbagai proyek ruang angkasa
Iran berhasil mengirimkan monyet ke ruang angkasa dan bersiap menyusulkan manusia pada tahun 2020
Rusia menjaga statusnya sebagai kekuatan ruang angkasa terkemuka yang terus dikejar Cina

dan Indonesia masih sibuk
memeriksa isi celana perempuan
berebut jatah kursi kekuasaan
memperdebatkan mengucapkan Natal boleh atau tidak
mengecek isi otaknya ada atau tidak

atau Indonesia sebenarnya ada atau tidak?

MANIFESTO PEMBERONTAKAN

(untuk Vicko Renngur)

Terus lahirkan sajak dari rahim pikiranmu
kelak, kata-katamu beranak-pinak dan menjadi bapak-ibu pemberontakan!
kata-kata adalah serdadu-serdadu kegelisahan
kecenderungannya adalah perubahan
tak kata tak ubah
begitu bunyi hukumnya

Ingat diktum Sitor Situmorang:
“Apa yang tak dapat kauhancurkan dengan tangan, hancurkan dengan sajak.”

teruslah bersajak!
niscaya, revolusi beranjak!

SAJAK KEMISKINAN

149900391_3759189e40_o

kemiskinan adalah neraka yang paling ilmiah
sebab manusia mengalaminya secara empirik dan obyektif sebelum kiamat tiba
kemiskinan adalah neraka jahanam paling tujuh di bawah kolong langit
kemiskinan adalah ibu dari segala kekejaman
ia dikejami dan akhirnya menjadi kejam
dan terciptalah suatu rantai karma kekejaman
yang mengalungi lekuk kemiskinan dan segala persoalannya

kemiskinan ditolak rumah
dijijiki manusia
dikutuk kendaraan-kendaraan mewah
dan dipecundangi peradaban

kemiskinan di Indonesia dipelihara
maksudnya dikembang-biakkan
sebab dengan miskin manusia akan bodoh
dan dengan bodoh, negara akan mudah mengaturnya
bagai boneka copot
kebodohan adalah modal negara yang paling alot

kemiskinan adalah rumput yang ditolak akar
daun yang digugurkan batang
buah yang dipasung pohon
dan airmata yang raganya tak mengizinkan mengering

kemiskinan adalah airmata yang tak usai
anak kandung bumi yang ditindas waktu
yang tak bisa lagi mati
meski segala kata-kata tak lagi memberi

oh, kemiskinan
di gubuk hatimu Tuhan bersemayam
mencambuk berkecamuk mengamuk-amuk
terhadap kenyataan
terhadap para perenggut kemanusiaan

oh, kemiskinan
oh, ciptaan Tuhan

Ibu, Pahlawan yang Tak Dipahlawankan

Ibu bapak tani—ibu bapak tanah air—akan meratapi putera-puterinya yang terkubur dalam udara terbuka di atas rumput hijau, di bawah naungan langit biru di mana awan putih berarak dan angin bersuling di rumpun bambu. Kemudian tinggallah tulang belulang putih yang bercerita pada musafir lalu, “ Di sini pernah terjadi pertempuran. Dan aku mati di sini.” 
(h. 22)”― Pramoedya Ananta Toer, Percikan Revolusi Subuh

Kalau orang-orang ramai mempeributkan kurikulum sekolah, maka kita jangan memihak di kubu manapun–tetapi kita katakan kepada mereka semua, “Apapun kurikulum-nya, tolong ajarkan kepada putra-putri bangsa Indonesia bahwa pahlawan yang paling nomor satu bagi bangsa, negara, dan umat manusia adalah ibu!”

Ibu adalah pahlawan yang paling primer bagi kehidupan manusia. Dia memunyai kontribusi besar bagi karakter anak-anaknya, namun menjadi ketiadaan dalam sejarah perkembangan sebuah peradaban.

Inilah problem mendasar yang perlu kita renungkan dalam-dalam; kita boleh berbicara apa saja, tentang apa saja, negara, teknologi, ekonomi, politik, kemajuan, perubahan budaya, dll. Tetapi satu yang tak boleh kita abaikan adalah ibu. Sebab kehidupan berawal dari rahimnya, dan kehidupan berkembang maju pun bersumber dari ke-rahiman-nya terhadap kehidupan anak-anaknya–yaitu kita.

Tak ada manusia yang tak ber-ibu. Tak ada. Sebab setiap manusia pasti memunyai ibu, maka kenangkanlah selalu wahai setiap kita:  tanpa ibu kita tiada. Tanpa ibu, kehidupan adalah hampa.

Katakan lagi: “Ibu adalah pahlawan umat manusia, Ingatlah wahai pelaku peradaban!” dalam novel Ibunda karya Maxim Gorky diceritakan ketika ibunda ditahan polisi militer dengan kekerasan, dia berteriak, “Bahkan samudra pun takkan mampu menenggelamkan kebenaran.”

Wallahu a’lam bisshawab ….

Bunda dan Mata Air Airmata

masiulanto_1332631056_bunda-maria

Di airmata
kau berpuisi tanpa kata
tak terbaca
namun cintamu lebih menyemesta

Bunda adalah mata air yang tak habis
di bahu, di kening, di leher, dan di keabadian
istana kemuliaan
tanpa ungkapan
tapi ada dan bersemayam
di airmata yang mengering oleh luka dan duka angkara

Air adalah kehidupan
dan air bermuara di matamu, bunda
kaulah mata air hidup
kaulah sang maha hidup
bunda …

Bangun Kesadaran Kolektif!

king_crimson_desktop_wallpaper-wide-700x357

Negara adalah representasi kekuasaan; kekuasaan mengakibatkan penindasan; dan penindasan akan menghasilkan perlawanan. Maka negara harus dilawan. Begitulah saminisme dalam memandang negara.

Tidak melawan negara sama dengan membiarkan angkara melebarkan penindasan. Di titik ini, kesadaran kemanusiaan (patut) dipertanyakan.

Pertanyaannya kemudian adalah: pantaskah kita melawan negara, sedang tiap-tiap kita disibukkan oleh persoalan hidup pribadi yang mendesak? Di sinilah letak ketidak-pastian kita dalam berjuang bersama.

Kita hari ini lebih banyak memikirkan dan memperjuangkan kebutuhan pribadi ketimbang persoalan sosial bersama. Mengutip penggalan dialog seorang ibu dengan anaknya dalam film Jab Tak Hai Jan, sang ibu berkata: “Kau tak akan bisa membahagiakan orang lain jika kau sendiri tidak bahagia.” Inilah common sense yang dipakai oleh khalayak umum dalam memandang hidup—sehingga kehendak bersatu dan berjuang bersama malah jauh panggang dari api.

Kesadaran kolektif adalah modal utama manusia dalam memperjuangkan cita-cita sosial. Maka ia harus—secara kontinyu dipompa ke dalam diri manusia. Kesadaran kolektif—pertama-tama tercapai oleh praktik pemerataan ketidak-adilan secara murni dan konsekuen. Kemudian yang kedua adalah masifikasi dan intensifikasi propaganda pencerahan oleh setiap kaum-kaum intelektual organik (rausyanfikr) yang berbaur di dalam masyarakat.

Kedua prasyarat menuju kesadaran kolektif harus dipenuhi agar cita-cita sosial bisa terwujud. Kalau realitas hari ini belum menunjukan, bahkan tak mengindikasikan prasyarat tersebut terjalankan, maka keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran sebagai tujuan sosial bersama hanyalah sebuah dongeng utopia belaka. Bahkan lebih rendah dari fiksi!

Cinta dan Masalahnya

lm

Cinta hanya relevan bagi orang yang kebutuhan primer dan rasa keamanannya terpenuhi. Cinta tidak relevan bagi orang yang kelaparan; yang kondisi ekonomi-hidupnya kacau balau dan (masih) berada di bawah standard kesejahteraan.

Lagu, syair, dan lantunan pemujaan tentang cinta hanya terhasilkan oleh orang yang telah melampaui dua hierarki kebutuhan—yakni hierarki yang pertama adalah kebutuhan fisiologis, makan-minum, dan yang kedua adalah kebutuhan untuk mendapat keamanan.

Apabila seseorang belum memenuhi dua kebutuhan di atas maka mustahil dia akan mencapai inti cinta. Begitulah kurang lebih pandangan tentang cinta jika dilihat dari teori kebutuhan-nya bapak psikologi humanistik, Abraham Maslow.

Pada kenyataannya pun demikian: cinta tak bermakna apa-apa jika manusia sedang kelaparan dan kesusahan.

Dua insan yang berpacaran belumlah mencapai kesejatian cintanya sebelum mereka menikah. Cinta yang sesungguhnya baru diuji ketika manusia mulai membangun dan menjalankan bahtera rumah tangga.

Manusia akan mencapai kesadaran tentang cintanya ketika ia menghadapi kepelikan hidup yang mendalam. Pada umumnya kepelikan-kepelikan serius dalam hidup dihadapi seseorang ketika ia telah berumah-tangga. Di situ, manusia akan menyadari bahwa “cinta saja” tidak mampu memenuhi-menjawab persoalan demi persoalan rumah tangga yang fundamentalistik dan urgentif.

Maka kemudian secara alamiah cinta akan tersubordinasi oleh tujuan membahagiakan dan desakan tanggung jawab; bahwa dengan modal cinta saja tanpa kebahagiaan maka akan sia-sia, malahan cenderung menimbulkan petaka.

Cinta bisa mengubah apapun, dan apapun bisa mengubah cinta. Dalam hidup, manusia membutuhkan cinta, tetapi cinta saja tidak mampu mengubah hidup. Tanggung jawab dan tuntutan hidup—yang dalam hal ini adalah pemenuhan kebutuhan primer akan menjadi lebih utama ketimbang persoalan cinta.

“Jangan bicara cinta jika pulang tak membawa duit!” tegas seorang istri kepada suaminya sesaat hendak berangkat kerja.

Kritik Terhadap Hari Ibu

nnn

Sebenarnya bagi saya hari ibu bukan hanya diperingati di tanggal 22 desember, tetapi hari ibu–seharusnya diperingati setiap saat, setiap hari. Sebab cinta ibu kepada anak tak mengenal hari, seperti penggalan lirik lagu Kasih Ibu-nya Mochtar Embut: Bagai sang surya menyinari dunia.

Cinta lebih tinggi dari waktu, termasuk cinta dalam relasi ibu-anak. Saya tidak tahu sejarah munculnya hari ibu 22 desember. Tetapi yang jelas, mendistorsi keagungan cinta ibu menjadi sekadar hari peringatan, yang kemudian dinamakan sebagai hari ibu tak bisa dibenarkan! Apapun alasannya tak boleh dibenarkan!

Tidak! Cinta kepada ibu dengan hanya diseremonialkan pada tanggal dan hari tertentu sama dengan kejahatan.

Apakah ada spesialitas atau penghususan sikap kita terhadap ibu di tanggal 22 desember dibanding hari-hari lainnya? Apakah kemudian di hari biasa kita hanya memberi bunga kepada ibu dan di tanggal 22 desember kita harus memberi emas kepadanya? Apakah harus ada penghususan? Sungguh dangkal!

Toh, hari apapun tak boleh mengubah cinta kita kepada ibu. Cinta kepada ibu harus konstan, bahkan semakin besar–semakin mengilahi. Bukan seperti mata uang rupiah yang fluktuatif; jangan lantaran tanggal 22 desember tiba lantas cinta kita kepada ibu memuncak, sedang setelah 22 desember berlalu cinta kita ke ibu menjadi surut bahkan mengering.

Baik, mungkin itu sedikit kritik saya terhadap hari ibu. Semoga kita tidak menjadi budak dari budaya momentumisme: budaya yang hanya panas-panas tai ayam di momentum tertentu, dan menjadi kelupaan yang sempurna setelah momentumnya berlalu.

Akhir kata: mari kita nyanyikan lagu Kasih Ibu untuk menutup tulisan ngawur ini ….

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia

Super sekali, golden ways!